Ikatan Alumni Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (IKAHI Unpad) menyelenggarakan diskusi secara daring melalui Zoom bertajuk “Posisi Indonesia Pasca Kemenangan Strategis Iran atas Amerika Serikat & Israel”. Menghadirkan alumni Universitas Padjadjaran yang kini berkiprah sebagai akademisi, peneliti, dan praktisi, forum ini menjadi ruang dialog untuk membahas dinamika geopolitik global serta implikasinya terhadap posisi Indonesia dalam percaturan internasional.
Ketua Umum IKAHI Unpad, Raja Syamsurizal, dalam opening remarks-nya menyampaikan bahwa IKAHI Unpad memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk menghadirkan ruang diskusi yang kritis, berbasis ilmu pengetahuan, serta mampu mendorong lahirnya pemikiran yang berkontribusi bagi bangsa dan negara. Menurutnya, di tengah perubahan tatanan dunia yang berlangsung cepat, masyarakat perlu memiliki kapasitas berpikir yang lebih kuat dalam membaca perkembangan global sebelum menentukan langkah dan sikap sebagai bangsa.
Diskusi dipandu oleh alumni Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran sekaligus news anchor TvOne, Kamaratih Kusuma. Melalui forum daring tersebut, moderator mengajak para narasumber mengulas makna istilah kemenangan strategis dalam konteks konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, sekaligus mengangkat pertanyaan utama mengenai arti perubahan tersebut bagi dunia dan Indonesia.
Hadir sebagai narasumber, Dr. Hendra Manurung dari Universitas Pertahanan membahas dinamika konflik dari perspektif kawasan Eurasia. Ia menilai bahwa perkembangan konflik menunjukkan keunggulan militer tidak selalu menjadi penentu kemenangan, karena kemampuan suatu negara untuk bertahan (survival) juga menjadi bagian penting dalam perubahan keseimbangan strategis. Menurutnya, hubungan historis dan kepentingan geopolitik Rusia, Tiongkok, serta negara-negara lain turut membentuk arah perkembangan konflik yang terjadi saat ini.
Sementara itu, Rektor The Deakin University Lancaster University Indonesia, Prof. Greg Barton, memandang perubahan yang terjadi bukanlah fenomena yang muncul secara tiba-tiba, melainkan bagian dari pergeseran tatanan internasional yang telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyoroti perubahan pendekatan kebijakan luar negeri Amerika Serikat serta munculnya kecenderungan sejumlah negara untuk memperluas kerja sama dengan mitra lain sebagai respons terhadap dinamika global. Dalam konteks tersebut, Prof. Barton menilai Indonesia memiliki peluang untuk semakin percaya diri dalam memperkuat hubungan dengan berbagai negara tanpa harus meninggalkan prinsip politik luar negeri yang selama ini dianut.
Dari perspektif hukum internasional, Dr. Diajeng W. Christianti yang juga merupakan dosen hukum internasional di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran menegaskan bahwa hukum internasional tetap memiliki relevansi meskipun implementasinya kerap menghadapi tantangan politik. Ia menjelaskan bahwa penggunaan kekuatan antarnegara pada prinsipnya dilarang dalam hukum internasional, kecuali dalam kondisi tertentu seperti pembelaan diri (self-defense) yang memenuhi ketentuan hukum. Menurutnya, konflik bersenjata tidak menghilangkan keberlakuan hukum internasional karena mekanisme pertanggungjawaban terhadap dugaan pelanggaran tetap berjalan.
Adapun Executive Director Research Center for Peacebuilding and the Global South Universitas Padjadjaran, Dr. Irman G. Lanti, Ph.D., mengulas posisi Indonesia melalui perspektif politik luar negeri bebas aktif. Ia menegaskan bahwa bebas aktif tidak dapat dimaknai sebagai sikap netral, melainkan kemampuan Indonesia untuk tetap menjalin hubungan dengan berbagai pihak sekaligus memiliki posisi yang jelas berdasarkan kepentingan nasional. Menurutnya, perkembangan situasi internasional saat ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk terus memperkuat literasi kebijakan luar negeri dan mengevaluasi langkah-langkah diplomasi yang diambil dalam merespons berbagai konflik global.
Meski diselenggarakan secara daring, diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta yang aktif memanfaatkan sesi tanya jawab. Beragam perspektif yang disampaikan para narasumber memberikan ruang dialog yang kaya sekaligus memperlihatkan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam memahami isu-isu global yang kompleks.
Melalui forum ini, IKAHI Unpad berharap diskusi publik tidak hanya menjadi wadah pertukaran gagasan, tetapi juga memperkuat peran alumni dalam menghadirkan pemikiran yang konstruktif bagi masyarakat. Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen alumni Universitas Padjadjaran untuk terus berkontribusi dalam membangun literasi publik, memperkaya perspektif terhadap isu-isu strategis internasional, serta mendorong lahirnya kebijakan yang adaptif terhadap perubahan tatanan dunia.